Curhat Si Gigi Gingsul

Hi, im back setelah melewati beberapa minggu yang stuck karena ada perkuliahan juga. Akhirnya mood untuk menulis telah datang. Wuhuu~~~

Seperti judul yang tertera, kali ini saya ga lagi jalan-jalan karena masih ada kesibukan dikampung halaman dan sepertinya segmen kali ini lebih cocok sesi curhat.

Kalau diedisi sebelumnya adalah curhat saya tentang kulit yang pernah bermasalah alias jerawat parah yang mungkin bisa kembali mulus meskipun ga mulus banget sih. Nah kali ini saya bakalan curhat masalah gigi saya yang 2 tahun pasca operasi impaksi gigi.

Sebelumnya, dari kecil saya sudah punya gigi yang tidak rata, agak sensitif dan mudah rapuh. Mungkin karena faktor keturunan juga. Dari sini terkadang saya agak minder dengan teman-teman (sampai sekarang masih juga) yang giginya super rapi. Dengan gigi saya yang begini terkadang membuat saya males banget buat foto terlihat giginya. Serius, malah ga banget deh jatuhnya. Perhatiin deh foto-foto saya, pasti jarang ada yang kliatan giginya. Hampir ga pernah malah.

Pernah juga punya pengalaman jelek karena gigi tidak rapi ini, saya kadang diledekin “jadi orang giginya dirawat dong, masa dibiarin aja kayak gitu”. Kalimat ini tuh ngejleb banget, mereka gatau sih perjuangan saya merawat gigi yang ga rapi begini itu lebih ekstra dan lebih susah. Lebih baik diem deh kalian-kalian.

Hampir setiap 1 bulan sekali saya ke dokter gigi, sampai punya langganan. Dokter pertama saya adalah dokter arif, setelah beliau kuliah lagi saya beralih ke dokter ratna (sebelum insiden impaksi gigi), sampai insiden impaksi gigi ini dokter saya adalah dokter iin (bpjs cuy) untuk perawatan dan pembersihan karang gigi.

Berulang kali kepikiran untuk mengkawat gigi, dengan bertanya-tanya ke teman-teman mulai dari biaya pasang, perawatan, dan lainnya. Sampai suatu hari saya harus oprasi impaksi 2017 yang lalu. Kalian sudah tau susunan gigi saya memang tidak rapi sama sekali terutama dibagian depan, dan terbukti di photo rongent panoramik gigi saya bertumpuk-tumpuk

Dari sini, saya sudah give up untuk memasang kawat gigi, selain karena biaya yang tinggi (lebih baik saya pakai untuk keperluan lainnya) juga gigi saya ada yang rapuh 1. Mungkin jika saya nekat untuk terus memasang kawat gigi, biayanya akan lebih tinggi lagi karena harus pakai gigi palsu dulu penyesuaian-pasang kawat-penyesuaian lagi.

bonus : gigi gingsul saya

Meskipun didalam diri saya masih ada keinginan untuk memiliki gigi yang rapi dan bersih, tapi bagaimanapun begini adanya saya. Untuk kalian-kalian yang memiliki gigi tidak rapi tapi masih sehat. Jaga sebaik-baiknya ya, jangan mau kawat cuma untuk gaya-gayaan aja ‘kecuali untuk kesehatan’.

Jangan minder yang sampai putus asa, you should know you’re beautiful just the way you are.

With love,

Mozarra

Leave A Reply

Navigate