Hai~

Sewaktu saya menulis post sebelum ini, saya sempat mecari-cari dokumen tersembunyi, barangkali masih ada sisa-sisa perjalanan saya yang belum masuk daftar list blog.

Berhubung dibulan Juni ini selalu menjadi perbincangan banyak pihak, dikarenakan iklimnya yang bisa dibilang berbeda dengan puncak-puncak biasanya, yaitu musim es, atau biasa dibilang oleh wisatawan musim salju di daerah Dieng Wonosobo. Nggak jarang bagi setiap wisatawan penasaran ingin berkunjung termasuk saya, hehe..

Nah, tapi dimusim yang seekstrim itu, diperlukan persiapan yang matang ya teman-teman. Karena sewaktu menjelang musim Es saja sudah dingin, terlebih saat musim saljunya sendiri.

Nostalgia perjalanan nekat kami menuju Dieng Wonosobo, tepatnya menuju Puncak Si Kunir. Berniat untuk melihat sunrise di view 360 derajat. Perjalanan ini berawal saat saya dan dua teman saya sedang ada program magang di Yogyakarta tahun 2016 yang lalu, 2 bulan menjelang musim salju. Tidak terlalu prepare dan sangat mendadak.

Dari Yogyakarta melewati Magelang menuju dieng, berangkat pukul 10 malam hingga waktu menunjukkan pukul 00.30 Pagi di pos pertama. Karena kedinginan kami menepi sebentar membeli beani, sarung tangan dan ke warung untuk menghangatkan diri. Sempat akan berangkat lagi namun sama penjaga warungnya dikasih tau untuk berangkat agak nanti saja, beliau menjelaskan posisi diatas sangat dingin dan tentunya banyak wisatawan yang juga menunggu diatas. Kami meng iya kan, dan istirahat sejenak sebelum akhirnya pukul 01.30 kembali berkendara hingga pos terakhir parkiran atas.

Pos pertama memasuki Dieng Plateau

Setelah itu tentunya masih berjalan hingga ke puncak 360derajat. Sampainya diatas mood kami agak berantakan, lelah karena sudah menanjak, dinginnya luar biasa, tempat duduk tidak ada alias dipuncak banyak sekali manusia-manusianya. Dari 03.40an kami menunggu hingga matahari akan terbit. Namun di jam 05.20 belum juga ada tanda-tanda cerah. Mendung sekali saat itu.

Kami menyerah, memilih untuk menghangatkan diri di Mushola dan antri sholat. Setelah itu kami menuju spot yang tidak terlalu banyak orangnya yang berdekatan dengan mushola, namun tidak dipuncaknya karena sudah lelah diatas. Kami mengambil beberapa foto meskipun mood agak berantakan, but its okay.

Sudah puas berfoto-foto. Kami akhirnya memutuskan untuk turun, berniat menuju ke destinasi selanjutnya.

Dieng Plateau Theater, disini kami sempatkan mampir ke warung untuk sarapan. Mie adalah pilihan terbaik saat itu untuk menghangatkan diri, ehehe.. Di Theater kami tidak berfoto-foto, karena mood sudah berantakan sejak dipuncak. Lanjut menuju perkebunan teh yang kami putari, agak menyesal juga karena tujuan kami seharusnya bukan ke Theaternya, namun ke Candi-candi dan Batu Ratapan Angin atau ke Kawah Sikidang dan kawah lainnya, kebuh teh yang seharusnya menjadi hiburan bagi kamipun ikut menjadi sasaran tidak mood kami untuk berfoto.

Mungkin karena lelah dan sudah mengantuk, kami memutuskan untuk pulang, terlebih sudah memasuki waktu dhuhur, kami mampir kembali di Mushola. Saat itu kami sudah seperti mayat hidup. Dinginnya tidak hilang-hilang padahal kami sudah agak turun dari wilayah Dieng dan ngantuknya sudah parah, jadi kami tidur sebentar di mushola tersebut.

Sedih, benar-benar sedih. Kami bahkan tidak bisa tidur nyenyak. Lalu melanjutkan perjalanan kembali dan nyasar ke Kulon Progo. Benar-benar pengalaman yang, bzz.. Yang seharusnya jika lewat Magelang cukup 2.5 sampai 3 jam perjalanan saja, kami harus menempuh 4 hingga 5jam. Saya tentunya penyebabnya, sudah tidak fokus, ngantuk apalagi digonceng.

Sesampainya di kos masing-masing. Saya, Dhea dan Rizqa langsung tepar. Kalau tidak salah ingat sekitar menjelang magrib kami baru sampai tujuan. Dan besoknya kami semua mengalami demam, bolos magang di hari Senin karena sakit berjamaah. hehe.. Miris tapi waktu saya menulis ini, kok senyum-senyum sendiri mengingatnya. Pengalaman yang unpredictable.

Bagaimanapun dan semendadak apapun, pastikan itinerary kalian sudah siap ya. Jangan asal-asalan seperti saya, eheh.. ._. Siapkan budget secukupnya, jangan sampai kekurangan, lebih baik jika lebih.

Oiya, sangat disayangkan Festival Lampion yang biasanya diadakan di Dieng saat ini ditiadakan, padahal perayaannya cukup meriah dan saat melihat foto-fotonya sangat cantik. Festival ini ditiadakan karena esok harinya banyak sampah lampion yang tidak dapat dibersihkan. Namun tenang aja, Festival tetap berjalan meskipun tanpa adanya acara lampion.

Eh, tapi untuk new normal ini masih belum ada kabar apakah festivalnya tetap berjalan atau tiada acara apapun. Yang jelas beberapa tempat wisata saat ini sudah dapat dikunjungi sesuai dengan protokol kesehatan ya teman-teman. Staycation and stay safe!

With Love

Mozarra

 

Author

"I hope you live a life and you are proud of. If you find you are not. I hope you have the strength to start all over again." (:

Write A Comment