Hai..

Selang hampir sebulan yang lalu, sekitar tanggal 15 Nopember 2019. Saya berniat kembali ke Gunung Ijen. Nekat kembali mengulangi mendaki Gunung karena yang lalu gagal hingga ke puncak kawah karena iklim yang tidak mendukung.

Jika kamu belum membaca perjalanan Ijen yang pertama, wajib banget baca dulu : See more at  ” here “

Saya tidak sendirian kali ini, tentunya bersama teman-teman pariwisata saya semasa kuliah. Dhea, dan Dimas yang posisi awal berada di Malang, Kurni yang berada di Sidoarjo, Ariel yang berada di Gresik dan tentunya saya yang berada di Kediri. Titik pertemuan kami berada di Terminal Bungurasih. Tentunya Ariel selaku pemilik Rush andalan setiap perjalanan kami 🙂 (sponsor terbaik ea, tapi Rushnya mau dijual 🙁 ).

Motivasi perjalanan kami kembali menyusuri Gunung Ijen selain temu kangen, adalah Ariel akan dipindah tugaskan kerjanya menghandle wilayah Jakarta. Sound so sad karena tentunya event perjalanan kita yang rutin digelar mungkin akan lebih tidak tertata, meski semua selalu dadakan sih (seperti rencana ke Ijen ini hanya seminggu sebelumnya). Mungkin, rencana perjalanan ke Timur akan agak susah. Jadi bisa saja schedule kita ke Tengah (?) Idk. Oiya sebelum usia juga semakin menua dan renta, maka segala rintangan akan kami tebassssh. Hehe.. (nope, kidding)

Saya orang kedua yang sampai di Terminal Bungurasih sekitar pukul 13.35, yang pertama datang adalah Kurni (iyalah, orang rumahnya paling dekatkan dia). Hal pertama yang saya lakukan, beli Dunkin’ Donut buat acara ultahnya Ariel yang sengaja kami rencanakan diam-diam tentunya, dan beli CFC  tanpa nasi untuk camilan. (saya mabuk diperjalanan naik bus btw karena belum sarapan dan makan siang ehehe). Orang ketiga yang sampai adalah Ariel, dan disusul Dhea dan Dimas. Perjalanan ke Banyuwangi dimulaiiiiii. Selama dijalan sebenarnya banyak percakapan absurd yang terlintas, but sampai Paiton saya hilang fokus penasaran (padahal selama ini lewati Paiton sebelum ke Bali), skip langsung ke rest area Situbondo yang direkomendasikan Ariel.

Disinilah kami makan malam sekitar pukul 19.00 dan event ulang tahunpun terjadi, percakapan kecil kami. Tentunya berterimakasih karena Ariel super baik relawan mobil selama diperjalanan bahkan sering sekali korting uang jatah bensin dari yang seharusnya, plus akan dipindah ke Jakarta, tentunya dia yang paling tua juga diantara kami, ehehe!

Setelah makan beberapa mengkondisikan untuk tidur karena perjalanan masih panjang. Sampai memasuki lereng Gunung Ijen, disana tersedia 3 portal untuk mendata berapa orang, darimana dan mobil apa guna untuk data pengunjung. Semua portal tersebut dijaga dan dirawat oleh Dinas Perhutanan, kalian boleh memberi tip jika ingin.

Sampai diparkiran mobil sekitar pukul 22.45 dan mulai membangun tenda double, kurang lebih 1 jam tenda terbentuk dan kami menyempatkan untuk tidur. Para 3 laki-laki tidur di tenda dan saya plus Dhea di Mobil. Hal Menyebalkan adalah, kaca jendela mobil terbuka terlalu lebar yang menyebabkan saya dan Dhea menggigil kedinginan sedangkan para laki-laki stay hangat :’. Tepat jam 00.45 Alarm saya berbunyi sambil menggigil saya bersiap-siap pakai softlens dan dandan alakadarnya biar muka ini ga kucel-kucel banget buat naik gunung.

Perjalan dini hari di Gunung Ijen

Start perjalanan dari pukul 01.00 dini hari, kami membeli tiket diloket. Biaya naik ke portal penanjakan Rp 5.000 perorangnya dan Rp 10.000 untuk parkir mobil. Sebenarnya ada biaya parkir tenda Rp 5.000 tapi kami tidak bilang. ups, jangan tiru kenakalan kami. Hehehe..

Perjalanan kurang lebih 3 jam hingga sampai ke puncaknya. Saya mengalami shock saat naik. Tiba-tiba sekitar sendi selangkangan kanan saya sakit dan tidak bisa bergerak dan saya mau muntah selama diperjalanan. Ternyata Dhea juga mengalami shock karena dia tiba-tiba pusing. Mensugesti diri-sendiri dan support dari rekan memang yang paling dibutuhkan saat itu, karena bagaimanapun datang bersama, usahakan pulang juga bersama. Oiya jangan lupa bawa air minum selama menanjak ya supaya terhindar dari dehidrasi.

Meski banyak beristirahat, akhirnya sampai juga dipuncak sekitar pukul 04.00. Diatas memang tidak tersedia air, namun jika melakukan sholat, tersedia tempatnya dengan tayamum ya kawan-kawan. Anyway, sebelum sampai puncak ada satu warung yang menyediakan makanan ringan dan teh hangat jika kalian ingin beristirahat sebentar. Jangan khawatir bila kamu haus atau butuh camilan, bisa banget mampir ke warung ini.

Hati mulai bimbang, ingin turun ke kawah mencari bluefire karena masih sempat. Namun, kami yang lebih mengerti tubuh kami, tentunya tidak sanggup melewati medannya yang curam, tanpa tangga, hanya tumpukan bebatuan sulfur. Mungkin bisa turunnya ke kawah, namun tidak menjamin bisa naiknya ke puncak lagi karena tidak ada pengamannya juga jika jatuh. Jadi kami cukup melihat bluefire yang sekilas-kilas terlihat dari puncak dan menunggu sunrise.

Puncak kawah Ijen. Sebelah kami inilah becak dorong

Kawah yang cantik, kabut asap sulfur yang tidak naik, sunrise yang indah. Cuaca yang sangat bagus. Angin berhembus memang kencang sampai kami harus sembunyi diantara bebatuan sulfur agar tidak terlalu kedinginan. Tapi saya terlalu senang bisa sampai puncaknya hingga cara menghangatkan diri dengan dance tidak jelas xD.

Selesai foto-foto, kami langsung turun sekitar pukul 05.00. Perjalanan turun sangat cepat. sebelum jam 07.00 kami sudah sampai di parkiran, ehehe.. Karena gratitasi telah menolong kami (meski kaki sudah encok kanan kiri). Sesampainya diparkiran langsung meluruskan kaki, sarapan donat acara ultah kemarin dan Dorokdok sponsor dari Dhea, dan subsidi 50k makanan dari saya yang punya voucher indomaret, hihi..

Ditendalah kami bercerita bersenda gurau, bahkan ada percakapan dari saya kalau tadi hampir muntah dan pingsan dipenanjakan, tapi ditahan-tahan agar tidak merepotkan yang lainnya sambil mensugesti diri kalau saya sanggup sampai puncak kawah. Dan Ariel bilang “sampe kamu ambek Dhea kenopo2, wes mending mudun wae”(sampai kamu dan Dhea kenapa-napa, mending turun saja). Tapi untung saja dengan seluruh tenaga kami semua sanggup menghadapinya. 🙂

Setelah makan camilan-camilan dan minum cukup. Ariel, Dimas dan Kurni siap tidur lagi di tenda karena mereka bergantian menyetir. Dhea tentu ikut leha-leha juga. Saya tidak bisa tidur, jadi beranjak ke mobil dan mulai melihat media sosial (oiya jangan lupa kaki langsung dikasih koyo atau counterpain untuk mengurangi rasa nyeri linu-linunya). Hingga jam 09.00 saya melakukan suatu kesalahan sampai alarm mobil nyala >_<. Semua jadi terbangun, i’m so sorry. Tapi karena itu, tenda mulai ditata kembali untuk dikemas. And then, perjalanan pulang..

Ada perbedaan antara penanjakan Ijen 2017 dengan 2019. Sewaktu 2017 yang lalu cuaca sedang tak henti-hentinya hujan, jadi kami harus berhati-hati agar tidak terpeleset ditanah yang basah. Namun berbeda dengan 2019 ini, hutan terbakar habis dan menyisakan bekas kebakaran hitam-hitam karena kemarau panjang, medannya tanah bercampur pasir yang tentunya debu halus bertebaran karena pijakan sekian orang yang menanjak, belum lagi terpeleset karena pasirnya yang kering.

Mungkin bagi kalian yang tidak terlalu kuat untuk menanjak, namun memiliki keinginan untuk naik ke puncak, terlebih kamu punya uang. Tentu saja tersedia becak dorong. Angkutan ini didorong oleh 2 hingga 5 orang ketika naik, dan 1 hingga 2orang ketika turun. Tarif becak dorong ini untuk PP mulai dari Rp 600rb – Rp 800rb. Mungkin tergantung beratnya juga. Atau bisa jika kamu lelah ditengah-tengah perjalanan, menaiki becak dorong tersebut karena dibeberapa tempat terkadang mereka menunggu penumpang dengan nego. Atau saat turunnya saja, tentu bisa dengan setengah harga dari perjalanan PP.

Kami menyempatkan untuk mampir ke Rest Area kemarin untuk mandi dan sholat. Perjalanan berakhir di Malang karena Ariel ada acara disana. Jadi pertemuan kami berakhir di Terminal Arjosari. And see you on another trip! 🙂

Untuk budget perjalanan kami naik ke Gunung Ijen adalah 250k perorang dengan rincian :

  1.  600k untuk bensin ÷ 5 orang = 120k
  2. 200k untuk Toll surabaya-banyuwangi-malang ÷ 5 orang = 40k
  3. Tiket masuk, parkir, tip, dll = 50k perorang

Total dari pengeluaran diatas adalah 210k. Jadi digenapkan 250k untuk makan 2x di rest area.

Note : Sebelum menaiki puncak, ada baiknya kamu menyewa masker khusus untuk memfilter udara jika terkontaminasi dengan sulfur. Harga sewanya cukup murah yaitu Rp 25k saja dan dikembalikan sat turun dipos sebelum masuk portal naik..

Kamera saya saat perjalanan ini masih service, jadi foto seadanya ya~ 🙂

 

With Love

Mozarra

Author

"I hope you live a life and you are proud of. If you find you are not. I hope you have the strength to start all over again." (:

Write A Comment