My Last Teen

Anyway, march had coming.. april is coming
So close to be in love.. (Almost is never enough) -_____-
Back to reality
So, karena judulnya my last teen yang artinya aku berumur 19 tahun beberapa hari yang lalu tepatnya 20 Maret. Nggak ada perayaan seperti my sweet seventeen or another syukuran, yang pasti aku sangat bersyukur masih memasuki umur di last teen ini. Sedih 🙁

Iya,
Soalnya waktu berjalan begitu cepat. Nggak kerasa akan memasuki usia yang lebih dewasa dan matang (serasa direbus) No, i mean pikirannya yang matang. Yah, sifat yang masih kekanak-kanakan ini tentunya masih nempel didalam diriku, bahkan masih suka main ayunan 🙁 Whehe.. Masih cocok nggak ya kira-kira kalau diumur yang semakin tua ini. 
So,
Alhamdulillah masih banyak yang mengucakan secara langsung maupun melalui telefon, mulai dinyanyiin pake gitar (Serius ini terharu), ngucapin panjang lebar kali tinggi, sampe ada yang ngajak ketemu buat ngaasih kado (uhuk) atau media sosial yang tiap tahunnya pasti ada sih yang ngucapin. Well, setidaknya walaupun aku hampir nggak pernah ngucapin, aku sudah berdoa sama Allah ( Doa yang secara diam-diam lebih specialkan ? :3)
Sebenernya saat ini mau ngeshare kegiatanku selama 20 Maret. Jalan-jalan! Yey!
Sengaja aku nggak nyari lokasi yang berair, takut dicemplungin ntar ga bisa renang, terus tenggelem, terus.. #ngaco. Jadi tanggal 20 Maret kemarin mumpung beberapa personil yang ada di Yogyakarta sedang berlibur (Sedih juga liburnya ga barengan mulu) Kita menyempatkan untuk berlibur, alias merefresh otak kita karena kejenuhan di Kantor. Iya, jenuh sampe kadang aku main COC kalau nggak gitu Hayday, Youtube, Disambi-sambi.
Hehe.. jangan ditiru, kita cuma meniru senior
Oke balik.
Jadi aku sengaja bangun pagi-pagi sekali. Itinerary sudah ditangan dari hasil search di kantor karena fasilitas wifi yang super WOW, komputer didepan mata dan temen magang yang sama bandelnya seperti diriku -____- #maap keun
Jam 4 Baru mandi, dan bergantian dengan Dhea karena rencana awalnya berangkat jam 5 alias setelah Subuhan. Kenapa? Karena biar bisa ke banyak tempat wisataaaa… Then, aku masak buat bekel sarapan. Dan kita ketemu dideket kantorku. Endingnya kita cuma bertiga sih dari rencana awalnya kemungkinan ber 7. Karena beberapa sakit dan satunya nggak ada kendaraan.
Nggak masalah, kita bertiga tetep berangkat
Tujuan awal kita sunrise di Mangunan! Wheey.. By the way karena kami sedikit terlambat berangkat alias jam 05.20 Baru sampai di Kantorku alhasil sunrisenya sudah terlewatkan sedikit. Tapi suasananya masih asik kok dan mendukung! Dari Kantor ke Kebun Buah Mangunan kurang lebih 1 jam dengan kecepatan yang (Nggak usah ditanya! ngebutnya) 
Kebun Buah Mangunan

Dengan budget Rp 85.000,00 (24 Jam) kita dah membawa kamera SLR Nikon D3100 + Charger + Memory Card 8GB + Batrai + Tas. Iya rental kamera karena nggak ada yang bawa kamera dan momen trip harus diabadikan. 
Kebun Buah Mangunan

Staff dari kebun buah mangunan disini sangat ramah. Bahkan kami direkomendasikan untuk kerjasama mempromosikan tempat wisata tersebut karena kami bekerja di tour-and-travel setempat. Tentu deh pak, lumayan sudah berkenalan dengan beberapa staffnya dan pegawai parkirnya. Oiya masuk ke Kebun Buah Mangunan ini Rp 5.750,00 dan biaya parkirnya untuk sepeda motor Rp 2.000,00
Selesai dari mangunan sekitar jam 7 lebih, kami nggak mau kelewatan menuju ke Pinus Mangunan. Perjalanan sekitar 15 Menit tinggal semakin naik. Udaranya lumayan dingin dan asik. Nggak terlalu ramai karena lagi nggak long weekend juga. Dan disini kita breakfast ala-ala sarapan yang tadinya udah disiapkan. Sebenernya kalian bisa camp disini atau menyewa beberapa peralatan seperti ayunan yang di talikan pada pohon pinus. Tapi karena kami disini hanya sebentar jadinya tidak tertarik untuk menyewanya. Kami duduk beralaskan koran yang sudah dibawa. Nggak usah khawatir kalau capek, disana ada tempat duduk yang sudah disediakan terbuat dari pinus juga kok!

Pinus Mangunan

Di mangunan pinus nggak berbayar, alias cuma membayar parkir.
Jam 9 lebih sedikit kami diberi rekomendasi oleh beberapa staff  untuk pergi kejembatan gantung, kurang lebih 1 KM dari Pinus Mangunan. Emm.. tempatnya sih nggak terlalu rekomended tapi lumayan buat kita sejenak yang berhobby foto-foto dan menjadi photographer. Dijembatannya nggak berbayar kok, tapi kalau mau turun ke sungai gede bisa membayar seikhlasnya dengan penduduk lokal karena termasuk dalam desa wisata. Parkir juga hanya Rp 2.000,00
Jembatan Gantung

Kami melihat sekitar bawah jembatan serasa bagus untuk diselusuri, akhirnya kami turun dan beginilah viewnya.

Tepi sungai (ini beneran candid lagi bentuk-bentuk batu)

(Ini aku gatau serius, keasyikan mainan batu, btw ini Rizqa 🙂 )
Cuaca semakin panas, sekitar jam 10 lebih kami akhirnya cabut, eh tapi belum bener-bener cabut karena dehidrasi. Ngopi-ngopi dulu pinggir jembatan banyak warung kok, skalian kami sedikit berbincang dengan ibu-ibu yang punya warung. Nggak bener-bener ngopi sih. Aku memesan Good Day Coolin tambah es batu, beuh segernya bukan main.
Next destination, kita ke Gumuk Pasir. Whaha.. Panas kentang-kentang kita ke gumuk? Yes, kita nggak masalah asalkan sampai tempat sesuai rute. Gumuknya panasnya serasa dipanggang, kami sempat ayunan, hunting foto dan entahlah mau apa lagi. Mau seluncuran pasir juga menyewanya Rp 100.000 sepuasnya sudah sepaket dengan instruktur. Tapi karena kita disini pada waktu yang salah, jadi nggak menyewa boardnya. Keliling Gumuk sampe kami nggak punya tenaga

Gumuk Pasir Parangtritis

I swear, kita kehabisan ion di gumuk pasir. Mukaku sampe merah-merah kata temen-temen karena saking panasnya juga. Jam 12 lebih kami pergi dari tempat itu, dan mencari sumber ion alias P*cari Sw#at, alhasil kami kembali fit.
Gumuk Pasir

Karena sudah memasuki waktu Dhuhur, kami menyempatkan mampir ke salah satu Pom Bensin untuk Sholat dan istirahat sebentar. Lucky! Kita mendapatkan mushola yang ada ACnya.Fasilitasnya sip banget deh Pom tersebut.
Lanjut jam 1 kita sebenernya mau ke Air Terjun Lepo Dlingo atau Sri Gethuk tapi gagal karena jalurnya kembali ke arah Mangunan lagi. Plan pertamapun sebenernya ada acara ke pantai-pantai, tapi karena datang pada jam yang tidak tepat jadinya next time wae.
Well, kita akhirnya milih Candi Ijo, kenapa? Mau lihat sunset. Whehe.. Candi Ijo ini letaknya jauh banget dari wisata-wisata sebelumnya, jadi nyimpang sendirian ke arah Prambanan, dia juga terletak diatas bukit, suasananya sejuk, tapi nggak dingin. Cocoklah dari ketinggian lihat sunset. Biaya masuk Candi Ijo ? Gratissss, cuma perlu tanda tangan wisatawan dan biaya parkir Rp 2.000,00
Tempat Sunset, wisata Candi Ijo

Tapi karena suatu hal yang sedikit buruk, cuaca tidak mendukung alias lagi mendung. So, gagal dapat sunset. 🙁 Tapi gapapa, tetap keliling sekitar komplex candi. Kami juga sempat berbincang-bincang dengan satpam sekitar yang sedang berjaga nama beliau Pak Suwiryo katanya satu tahun lagi sudah pensiun. Beliaunya lumayan sepuh tapi masih fit. Beliau juga menceritakan kalau Candi Ijo ini beberapa tanahnya akan dibebaskan dari tanah warga karena ternyata masih luas ditemukan batu-batunya yang berguguran. Untuk lebih tau sejarah Candi Ijo silahkan browshing sendiri. Ehehe, yang pasti Candi ini adalah Candi Hindu dan terkadang digunakan sebagai tempat beribadah umat Hindu namun tak sebanyak di Prambanan.
Didalam Candi Ijo yang utama terdapat Lingga Yoni (simbol laki-laki dan perempuan) penyatuannya Dewa wisnu dengan Dewi Parvati *ralat saja kalau aku salah. Dan di bangunan 3 lebih kecil tersebut ada simbol sapi dan satu barang.
Jam 3 kami berpamitan dengan beliau, karena menunggu sunsetpun juga akan gagal karena mendung. So, kita balik ke kos dan Sholat Ashar dijalan.
END of our day, terimakasih teman-temanku, sahabat-sabahatku, keluargaku dan orang-orang tersayangku. Keep being my side. Thanks for understanding. Baru tahun ini nangis terharu karena bukan dikerjain, well, semakin dewasa pastinya semakin ngerti kalau aku nggak suka ditimpuk-timpukin :’) bikin asma kambuh~ Mending dikasih kue aja ._.v
With Love
Writer

Leave A Reply

Navigate