Operasi Impaksi Gigi dengan BPJS (Before After)

2
62

Holaaa..

Melanjutkan sharing post tentang pengalamanku yang sebelumnya..

Jadi setelah dijadwalkan operasi pada tanggal 7 September 2017, saya kembali lagi ke RSUD Pare untuk D-Day nya operasi impaksi tersebut. awal syarat yang diperlukan sama dengan sebelumnya. Ketika saya datang untuk pendaftaran loket saya cukup membawa

  1. Nomor antrian (memilih BPJS)
  2.  Fotocopy KTP (rangkap 2)
  3. Kartu BPJS asli dan copy (rangkap 2)
  4. Foto copyKK (rangkap 1), hasil penentuan tanggal operasi asli dan copy (jika sebelumnya rujukan, sekarang surat tanggal operasi)
  5. Kartu berobat (asli)

Setelah pendaftaran, kalian akan diminta untuk mengisi selembar form perjanjian antara wali,pasien dan petugas loket yang menyatakan saya bersedia menjalankan operasi dll. Setelah mengisi form tersebut, kami menuju tempat bedah syarafnya menunggu antrian. Usahakan untuk perut diisi dalam keadaan kenyang untuk amunisi hingga keesokan harinya. Dikhawatirkan anda susah untuk mengunyah makanan.
Jujur saya tidak nervous sama sekali karena sudah sering langganan sakit gigi atau sering perawatan gigi (saking berantakannya saya jadi sering bertemu dokter gigi dan tidak membuat saya takut). Sampai akhirnya saya dipanggil untuk operasi pada pukul 10.27 WIB. Saya membawa rontgen gigi dan bacaan rontgen. Hanya saja bacaan saya mengalami kendala dikarenakan SIMA menulis jika saya tidak memiliki kelainan pada rongga. Padahal jelas-jelas tertera di rontgen saya memiliki kelainan tersebut. Akhirnya, mama saya meminta bacaan dari RS tersebut agar claim BPJSnya lancar. Sembari menunggu bacaan, saya sudah disiapkan untuk memakai pakaian ala chef dan dimulailah operasi tersebut.

Ini adalah pertama kalinya saya merasakan operasi.

Ketika gusi saya mulai dirobek di bagian kiri. Saya cukup merasakan sakit sebentar kemudian dibius. Lalu berganti ke gusi sebelah kanan. Penusukan untuk sebelah kanan lebih banyak daripada yang kiri 4x penusukan karena tidak ditemukannya jalur gigi saya yang miring dan ini cukup membuat saya sedikit kesakitan. Namun, setelah muncul barulah saya dibius sebelah kanan.

Saya tidak terlalu merasakan sakit, biusnya cukup membuat saya merasakan bibir dan lidah menjadi ndomble alias membesar. Secara tidak langsung saya keceplosan bilang “bibirnya rasanya membengkak” kemudian dokter bedah saya tertawa sambil menjawabnya “sekarang masih rasanya ya, nanti beneran bengkak kok”.

Saya tidak takut, hanya saja ketika gigi saya akan dicabut, susahnya minta ampun sampai mulut saya diongkek-ongkek (bahasa indonesianya apa ya?) Ya begitulah, sampai mulut saya nyeri karena tidak bisa terbuka lebih lebar lagi dan penekanan diluar bius. Akhirnya, saat menurut dokter gigi tersebut bisa tercabut ditanganilah oleh mahasiswa praktik yang mencoba mencabut gigi saya. Saya cukup tercengang, pasalnya bukannya gigi tersebut tercabut namun justru kembali masuk ke jalurnya. Hal ini terjadi di bagian kanan dan kiri. Dokter sayapun bilang kepada saya “ikhlasin giginya mbak. Ketawa dulu dong” Akhirnya kembalilah dicabut oleh dokter bedahnya. Fiuh.. saat-saat yang mencengangkan. Dokter bilang saya tidak ikhlas giginya dicabut (hehe ada-ada saja”.

Selesai pencabutan. Gusi yang disobek tersebut di jahit. Saya tidak tahu ada berapa kali jahitan. Kali ini yang menangani dokternya sendiri.

Done!

Selesai operasi saya disuruh untuk mengigit kapas berobat dan mulut saya dibersihkan oleh mahasiswa praktik dengan kapas berakohol dikulit luar mulut saya.

Setelah itu saya keluar dari ruangan operasi sekitar pukul 10.50 dan diberi resep obat serta gelang tangan pasien. Setelah dapat obatnya, buru-burulah saya mencabut kapas tersebut dan kumur-kumur hingga bersih lalu segera meminum obatnya agar nyerinya tidak berlarut-larut nantinya.

Mau tau before-afternya ? Pasti dong ya. Siapa yang tidak ingin melihat pipi saya ini semakin gempal

Before oprasi. 7 September 2017

Bandingkan kedua foto diatas dan bawah ini

After oprasi, 8 September 2017

Saya termasuk orang yang beruntung karena bisa menjalankan oprasi menggunakan BPJS. Ruangan BPJS kelas I berisi 2 orang dengan fasilitas kipas angin dan kamar mandi dalam. Cukup nyaman menurut saya karena alhamdulillah saya tidak perlu membayar 12jt atau 7jt untuk operasi tersebut. Thanks to BPJS. Pelayanan di rumah sakit ini juga sangatttt bagus menurut saya. Mereka bahkan tidak membandingkan antara pasien umum atau BPJS kelas berapapun. Untuk opname 1 malam memang program dari BPJS.

Jangan bilang saya menggemaskan. Karena jika bengkaknya hilang berarti saya tidak menggemaskan lagi dong ? 🙁

Untuk setiap orang memiliki reaksi yang berbeda-beda. Seperti saya dan sepupu saya.

Sepupu saya yang memiliki info saya sebutkan diawal sudah manjalankan oprasi 1 bulan yang lalu. Dia mengatakan sulit untuk makan dan nyerinya tidak hilang-hilang.

Saya sendiri merasakan nyeri ketika sholat dhuhur pada waktu sujud (saya belum bisa sujud hingga sekarang). Kemudian nyeri tersebut datang ketika efek bius saya mulai menghilang. Sampai pada waktu ashar, saya berlatih mengunyah makanan dari RS ini. Menurut saya, sakitnya hanya ketika gusi saya dirobek dan efek bius menghilang sekitar 2 jam setelah dijahit. Kemudian yang saya rasakan hanya pipi membengkak. Saya bahkan sudah bisa makan nasi goreng malam ini. Whehe :3

Obat yang diberikan dokter ada 3 macam :

  1. Cefadroxil tablet 500mg, 3x sehari
  2. Mefenamic Acid tablet 500mg, 3x sehari
  3. Dexamethasone tablet 0.5mg

Saya dijadwalkan hari Selasa nanti 12 September 2017 untuk lepas benang jahit. Bismillah..

2 COMMENTS

    • hehe, iya kak. Soalnya kalau nggak dicabut migrainenya berkepanjangan u.u beruntunglah orang-orang yang dari lahir giginya sudah rapi huhu..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here