Travelling Malacca

Hai..

Setelah kepulangan dari Korea, tentu saja rombongan transit di KLIA 2 pada tanggal 30 Oktober 2018. Sesampainya di KLIA 2, saya dan Mbak Shela harus berpisah dengan Mamak, Dedek, Mbak Nela dan Mbak Lia karena mereka langsung kembali ke tanah air. Huhu.. Sedih bukan main.

5 Hari travelling bersama serasa seperti keluarga yang saling melengkapi dan terpisahnya ditanah airpun jauh. Mamak di Papua, Dedek Dela di Makassar, Mbak Nela di Jakarta, Mbak Lia di Kalimantan. Jadi, untuk bertemupun sepertinya agak susah. Untung masih ada whatsapp yang menghubungkan kami. Terlebih kami telah mendapatkan kabar dari Mamak kalau dedek yang ada diperut mamak selama di Korea telah lahir, gans :3

Kami berdua menuju ke KLIA 2 Transportation Hub, yaitu tempat bus beroprasi dan memilih perjalanan ke Malacca pukul 18.15 by Trans Nasional Ekspress, biaya yang dikeluarkan seharga RM 24.10. Saya sudah menghubungi teman dari coachsurfing yang bersedia mengantar kami untuk bertamasya selama di Malacca, dia bernama Maher yang sebenarnya berasal dari Mesir, di Malacca dia sedang menempuh S2 penelitian tentang teknik 😀

Perjalanan dari KLIA 2 ke Malacca yang diperkirakan sampai 2 jam lebih sedikit ternyata molor hingga 3 jam lebih. Alhasil, saya dan mbak Shela sampai pukul 21.30an di Terminal Malacca. Disitulah Maher menjemput dan saya terkena jetlag yang berakhir kami tidak jadi pergi berkeliling Malacca malam itu 😀 Akhirnya, kami hanya diantar ke Hotel The Explorer dan istirahat.

The Explorer Hotel ini sangat saya rekomendasikan, selain harganya hanya 300k yang bintang 3, kenyamanan dan keamanannya sangat terjamin. Selain itu, makanan yang tersedia sangat banyak dan enak banget lho, terlebih halal lagi. Oiya, bila kamu memasuki Malacca dan akan menginap. Ada biaya tambahan berupa pajak turis sebesar RM 10 perorangnya.

Berlanjut keesokan harinya. Saya dan mbak Shella kembali bertemu dengan Maher untuk tour hari ini. Saya kira awalnya akan berputar-putar mengelilingi Malacca dengan mobil. Ternyata lokasi saya menginap sangat strategis jadi kami hanya perlu berjalan yang dimulai dari A Famosa berlanjut ke St Paul’s Church, Malaccaa Sultanate Museum dan berakhir sejenak di Stadthuys. Disana kami melihat peristiwa-peristiwa yang terjadi selama Masa Kesultanan Malacca, Era Portugis, Era Belanda, Era British, Era Jepang hingga era Jepang sampai mendapat kemerdekaan dari Inggris. Banyak sejarah yang telah saya baca disini hingga pakaian tradisional dan rumah tradisional mereka. Bhakan kabarnya rumah tradisionalnya masih dilestarikan dikawasan Kampung Morten. I’ll come there this night ehehe..

Tangga menuju A Famosa (Mbak Shella)

Setelah berwisata sejarah, tentu saja kami menyeberang sebentar untuk mampir melihat Cruise yang berlalu lalang melewati perairan didekat kami serta berfoto-foto ria. Berlanjut ke jalan fenomenal yaitu di Malacca 3D Street yang berdekatan dengan Hardrock Cafe. Saat melewati jalan ini, syukur posisi saat itu sangat sepi. Jadi hanya kami yang berlalu lalang, eheh..

3D Art Malacca

Dhuhur mulai datang, saatnya beristirahat sejenak untuk Sholat. Kami menyempatkan untuk mampir di Masjid Kampung Kling yang jaraknya tidak terlalu jauh dari 3D Street. Sungguh, hampir seminggu berada di Korea, kami sangat merindukan Adzan berkumandang. Maaf ya terlalu terbawa suasana. Bersyukurlah kalian yang masih bisa tinggal di daerah yang adzan bisa didengar dari rumah.

Selain itu saya dapat masalah karena perbedaan cuaca dari ekstrim 0 C sampai di Malaysia langsung kulit saya mengelupas. Sedihnya saya jadi gabisa memakai make up 🙁

Setelah mengelilingi sekitar, kami akhirnya lunch disalah satu restaurant random dekat dengan Hotel yang tentunya kami bisa memilih menu apapun alias prasmanan :D.

Time to back Hotel, dan saya sangat berterimakasih sama Maher karena membantu kami mengelilingi Pusat Kota Malacca.

Saya dan Mbak Shella tentunya memanfaatkan waktu rehat kami untuk tidur, karena kondisi kami juga kurang fit sepenuhnya. Selain itu saya mengcontact salah satu kawan di CoachSurfing lainnya untuk meet up dadakan 😀 Dan disinilah saya dan Mbak Shella berkenalan dengan Shafiq. Laki-laki yang umurnya berkisar 27tahun. Dia lulusan kedokteran di salah satu University Mesir dan sedang menunggu jadwal bekerja.

Kami dijemput oleh Shafiq yang notabenenya adalah asli orang Malacca, tentunya cerita darinya lebih banyak dari Maher yang pendatang. Mbak Shella yang sebelumnya agak pendiam karena pembicaraan dengan Maher dengan bahasa Inggris akhirnya lega bisa bertemu dengan sesama pengguna bahasa Melayu 😀

Shafiq mengajak kami berkeliling disekitar Malacca yang agak jauh. Tentunya karena Adzan Magrib sudah berkumandang. Kami sempatkan untuk melipir sebentar ke Masjid Kampung Hulu dan Kampung Kling yang notabenenya (dari Cerita Shafiq) adalah salah satu Masjid tua yang ada di Malacca.

Sejujurnya Malacca itu sempit, apa yang sudah terlewati akan terlewati lagi sesekalinya 😀 Jadi kami diajak menuju ke Masjid Apung aka Masjid Selat Melaka yang berada di pulau buatan. Saya sangat terpesona dengan keindahan Masjid terutama saat malam tiba dan cahaya bersinar hijau disekitarnya. Tentunya masjid ini sangat ramai terutama turis berbus-bus yang berdatangan.

Masjid Apung Malacca (Me-Mbak Shella-Shafiq)

Setelah isya berlalu, kami diajak Shafiq untuk mampir disalah satu restaurant langganannya untuk makan malam. Menu yang kami ambil yaitu Asam Pedas Ikan Pari. Bagi saya ini adalah pengalaman pertama makan ikan pari. Rasanya? ya asam dan pedas 😀 Namun, enak dilidah yang rempahnya hampir mirip dengan rempah Indonesia. Rindu bakso, soto dll :’3

Waktu menunjukkan hampir tengah malam, saatnya berpisah dengan mbak Shella :”( Kapan lagi ya bisa jalan bareng. Saya, Mbak Shella dan Shafiq sudah seperti kawan lama dan klop sekali padahal baru beberapa jam bertemu. ehehe..

Alhamdulillah saya sangat bersyukur dipertemukan oleh orang-orang yang baik sekali. Sampai bingung harus bagaimana membalasnya. Semoga ada kesempatan lain kami berjumpa ya. Beserta rombongan kemarin dari Korea juga.

Eh iya, ada yang menanyakan harga untuk Cruise?

Harganya terbagi menjadi 4 katagori.

Senin – Kamis :

  1. Pelajar Malaysia RM 10.00
  2. Foreigner Dewasa RM 18.00
  3. Foreigner Anak-anak (2-12thn) RM 10
  4. Dibawah 2 tahun FREE

Untuk harga selain hari diatas hanya berbeda di foreigner dewasa yaitu RM 23

Kebetulan saat itu Shafiq bisa membelikan RM 10.00 karena mereka mengira saya orang Malaysia 😀

Di Kampung Morten hanya lewat saja karena hari sudah malam, dan saatnya saya kembali ke Hotel. Because, bus saya ke KLIA berangkat pukul 4 Pagi. dan Flight saya kembali ke tanah air berangkat pukul 10am.

Malacca salah satu tempat yang asyik untuk didatangi dan sebenarnya tidak memerlukan waktu lama untuk berkeliling. Saat itupun kebetulan di daerah Jongker Night juga sedang ada Festival Deepwali bagi masyarakat yang memiliki keturunan India 😀

Kemana lagi selanjutnya ya?

With Love

Mozarra

Leave A Reply

Navigate