Unforgotable Moment 2K15 (Lima)

Categories Travelling TimePosted on

Madinah,
Kurang lebih perjalanan dari Mekkah menuju Madinah ditempuh selama 6 jam dengan keadaan tanpa macet. Kebetulan dari jam4 sore sudah persiapan nyatanya bus bagian rombonganku mendapatan jatah sekitar jam setengah 6 sore. Perjalanan terasa hening karena kami hanya melewati gurun-gurun pasir yang tidak terlihat disekeliling karena minimnya penerangan dan jarang sekali kendaraan yang berlalulalang. Kami sampai di penginapan Badr Al Ghamama, di Madinah pada pukul 12 kurang pada malam hari.

Penginapannya tidak semewah di Mekkah, namun jarak tempuhnya sangat dekat sekali dengan Masjid Nabawi. Karena kami berhaji, otomatis kami berniat untuk bisa sholat 40x selama 8 hari selama di Madinah atau biasa disebut Arba’ain (tolong koreksi tulisannya jika salah). Check in sangat lama sekali dan koper-koper berserakan dimana-mana saking banyaknya orang dan penginapannyapun tak sebesar seperti di Makkah. Akhirnya aku dan Mbak Eky mendapatkan lantai 7, dan kami membawa kopernya tanpa menggunakan lift, karena lift didominasi oleh orang-orang yang lebih tua dan kami selalu disuruh mengalah karena muda-muda._.v
Alhasil, kami sampai dengan ngos-ngosan di lantai 7, eh kalau Mbak Eky sih kopernya dibawakan Mas Riza, nah aku bawa sendiri 2 koper :’). Asli rasanya udah ngantuk nggak karuan ditengah malam dan angkat-angkat seperti manol. Alhamdulillah wasyukurillah masih diberi kekuatan sedemikian rupa walaupun akhirnya tepar di kasur :Dv
Well, berhubung sekamar diisi oleh 3 orang, akhirnya sekamar diisikan oleh Aku, Mbak Eky dan Bu Suci dari regu sebelah. Ruangannya simple, Airnya masih panas dan dingin. Namun sayangnya, tak ada tempat untuk berjemur. S, mau-nggak mau kita mengakalinya dijemur didekat jendela :Dv (Kejadian ini serupa dengan di Mekkah, karena di Mekkah disiapkan jemuran di basment, bukannya malah kering tapi malah sebagian dari baju di reguku hilang, dan jemuran bikin sendiri dari tali tampar yang dikait-kaitkan dengan meja dan kayu makan ditumpuk-tumpuk, jadinya karena takur barang-barang banyak yang tertukar dan hilang kami menjemur didekat jendela kamar dengan savety yang terjamin. Karena banyak juga yang menjemur di jendela namun malah terjatuh dan tersangkut di atap lobby)
Kejadian tak mengenakkan ketika para sesepuh yang mendapatkan lantai 1 hingga lantai 3 mereka mengeluh dan marah-marah karena belum dibersihkan sudah di berikan kuncinya pada tamu. Alhamdulillah, deh dapat lantai 7 :”
Next, Subuh dijadwalkan sekitar jam setengah 5 pagi WAS (Waktu Arab Saudi). Namun, karena saking lelahnya kami terbangun pukul setengah 4 dan baru bersiap-siap kemudian berangkat menuju Masjid Nabawi yang kurang lebih memerlukan waktu 8 menit. Kejadian ini 2x terjadi, kami berdua tidak mendapatkan tempat didalam masjid karena sudah terlalu padat. Akhirnya kami menggelar sajadah dibawah payung-payung sekitar. Sholat sunnah sudah, tadarus sudah, namun rasa kantuk menunggu subuh masih saja datang.
Numpang ngeksis

Waktu menunjukkan pukul 5 pagi dan Subuh baru saja dilaksanakan. Nah, Subuh disini maupun diilaksanakan lebih lama daripada di Makkah. Surat Ar-rahman bahkan katam dalam 2 rakaat, belum lagi dilafalkan dengan nada-nada yang menyejukkan hati, karena tersemprot air dari kipas angin juga sih._.v Kurang lebih jam 6 kurang 15 Sholat baru selesai.  Dan biasanya bagi perempuan yang ingin memasuki wilayah raudoh hanya diperbolehkan setelah subuh sekitar jam 9 pagi, setelah dhuhur dan setelah isya saja, itupun dibatasi. Aku ceritakan itu nanti…..

Kalau aku dan kakakku sedang mood berbelanja, kami menuju ke sekitar didepan pintu 25. Disitu ada mall dan kios kecil-kecilan. Kalau kami berdua sedang kelelahan, biasanya kami langsung menuju ke hotel dan aku membeli teh susu dan roti cup semacam muffin namun bukan. Biasanya aku menjadikan sarapan rutinku ini.

Well, di Mekkah kami hanya mendapatkan 1x jatah makan yaitu disiang harinya(Haji tahunku digunakan ssebagai percobaan, jadi ditahun sebelumnya di Makah tidak menjadaptkan jatah makan sama sekali, entah ditahun 2016 yang akan datang). Berbeda dengan di Madinah yang mendapat 2x jatah makan, soda dan buah di siang dan malamnya serta waktu paginya kami diberi kue. Jika kami berdua pulang ke hotel biasakan kami gunakan waktu ini untuk tidur.

Dhuhur dimulai sekitar jam setengah satu, namun karena kami ingin mendapatkan tempat didalam jadi aku dan kakakku berangkat jam 10 siang. Ekspetasiku ketika aku berkunjung di Madinah, aku akan merasakan hawa-hawa dingin dan sejuk. Namun, karena insiden badai pasir dulu nyatanya masih terasa di Madinah hawa yang panas bahkan jika aku tidak membekap hidungku untuk bernapas rasanya seperti ada debu panas yang juga ikut masuk. Gagal pakai baju double-double deh. Ehehe..
Ashar dimulai pukul setengah 4 dan biasanya kami setelah Dhuhur kembali ke hotel untuk makan siang, kemudian akan berangkat lagi ke Masjid Nabawi untuk Ashar-Magrib-Isya. Senengnya aku disini saat Sholat Magrib, banyak anak kecil berbondong-bondong setoran hafalan Al Qur’an maupun Hadist. Dan lucu-lucu imut-imut. Aku bahkan yakin jika ini semacam sekolah malam TPA yang wajib dilakukan setiap anak. Dan yang membuatku heran, ternyata jika mereka mampu menghafal bagian mereka serta bisa mensetor kepada pembimbing mereka, mereka akan mendapatkan uang jajan. Whehe.. saya mau tantee..

 
Magribpun juga jadi favoritku disini karena suratnya pendek-pendek ehehe, sempat kakiku rada kaku dan capek hampir tidak bisa bergerak karena lamanya berdiri saat Subuh._.v
Sholat magrib dimulai sekitae jam tujuh, dan isya dimulai pukul setengah 9 malam. Dan sering kali makan malam kami pukul 10 malam dan kemudian tertidur karena esok kami harus kembali untuk Subuhan pukul 3 pagi. Cukup melelakan memang, belum lagi iklim yang masih rawan ini, namun entah kenapa hawa-hawa di Madinah ini justru lebih menanangkan bagiku. Mungkin karena sebagian orang sudah berhijra ke Makkah, jadi tak banyak orang.
Ceritaku di Raudoh..
Aku nggak banyak kembali ke Raudoh, rasanya menyesal pasti karena aku pengen banget setiap kesempatan setiap hari bisa kesana, nyatanya tubuhku lebih cepat lelah dan keinginan ke raudohpun terurungkan. Bersiap dari setelah subuhan dan dhuha. Aku dan kakakku berkeliling tempat orang-orang jualan._. hingga jam 9 tiba kami menuju pintu 25 perempuan. Pintu-pintu masih ditutup, kami mengantri dengan sabar dan instruksi dari pembimbing. Tentunya kami dibagi menjadi beberapa kelompok alias asal negara. Indonesia mengikuti Melayu, ada Afrika dan Iran, ada Eropa dan segolongannya ada India beserta Pakistan dan rasnya. Yang pasti kami dibedakan mengingat orang ras Melayu pendek dan kecil dibanding mereka.
Well, agaknya kejengkelan pasti ada disini. Walaupun sudah ditertibkan, namun mereka tak bisa menahan diri untuk berlarian menuju raudoh. Pengalamanku yang pertama ini menjadikanku sedikit kapok karena saat aku dan kakakku sudah selesai dan akan pergi, nyatanya aku didorong oleh perempuan-perempuan India dan walaupun kakakku dan aku sempat adu mulut karena kami gatau juga bahasa mereka, anehnya mereka marah ketika kami akan memasuki pintu exit yah aku juga rada ngotot sih menujukkan pintu exit dimana. Mereka ga bisabahasa inggris yang ada dikira aku ngusir mereka untuk keluar -____- pvft..
Oke, yang ini aku beneran bisa keluar dengan hati lega. Dempetan tersebut luarbiasa sakit dibadanku karena aku hampir tidak bisa bernafas, apalagi didempet orang yang berbadan gede bos :” apalah daya aku yang kecil imut-imut ini.
Dan semenjak itu aku jadi agak takut untuk memasuki raudoh, namun tekatku justru lebih besar daripada ketakutanku #Aseq. Akhirnya aku kembali lagi kesana namun tak didepan maqam seperti waktu itu. Aku berada di pinggir sebelah pintu keluar. Alhamdulillahnya ada dari ras Melayu lain yang memberiku dan kakakku ruang karena beliau sudah selesai sholatnya. Menangislah aku disitu dan titip iman karena tanah raudoh adalah salah satu tanah yang akan diangkat ke Surga.
 Hhm.. diakhir hari-hariku di Madinah cukup melegakan namun rasanya masih tak ingin kembali ke tanah air. Berhubung aku masih punya tanggung jawab di kampus dan rumah. Yah, dengan berat hati ku katakan.

Boarding Pass and Pasport

Good bye Saudi Arabia~
BONUSS!!
Nah ini ada bonus dari penulis tersayang~
Jadi sebelum aku menuju Madinah, sepupuku mengajakku untuk berkeliling Makkah. Sepupuku perempuan ini orang Indonesia namanya Mbak Bin, dia memiliki suami di Arab. Anaknya ada 3, yang pertama perempuan namanya mbak Mitha tinggal di Indonesia dan diasuh oleh keluarga di Indonesia, asli dia cantik banget blasteran Arab-Indonesia berhidung mancung dan lebih dominan Arabnya.
Anak kedua namanya Muhammad ikut tinggal di Arab dia lebih dominan Indonesianya, anaknya asik umurnya dua tahun dibawahku, nggak terlalu bisa bahasa Indonesia tapi dia suka dengan bahasa Jawa. Anaknya bakan lebih tinggi dari aku kurang lebi satu jengkal. Dan waktu pertama ketemu aku diledekin pendek -____- nyebelin yah orang Arab :”Dv
Anak ketiga namanya Abrar, perempuan ini fifty : fifty dari kedua orang tuanya. Dia pakai niqab yang tertutup rapat sampai matanya aja ga kelihatan. Nah, tapi sewaktu kami (aku, kakakku, dan iparku) diajak jalan-jalan sempat mampir di KFC karena kangen masakan yang selera lidah :” lucunya di restaurant Arab ini selalu memiliki 2 pilihan : Ruangan keluarga, atau umum. Dan rata-rata yang umum hanya digunakan oleh laki-laki nongkrong. Dan ruang keluarganya memiliki bilik-bilik bertirai. Nah di bilik inilah mereka baru melepaskan niqab maupun cadarnya. Beuh, asli cantiknya nggak ketulungan. Bening banget mukanya dan matanya agak sipit.
So, suaminya sepupuku ini sebenarnya blasteran antara Arab dengan Filiphine. Jadi… ya begitulah. Sipitnya mereka datangnya dari Philiphine itu :Dv Blasterannya jadi Arab-Philiphine-Indonesia. Perfect deh :’) selain itu, dia sering bolak-balik keluar negeri untuk pekerjaan dan sering ke Jakarta, tentunya dengan begini beliau bisa berbahasa Indonesia dengan lancar. Sayangnya Abrar rada susah terbuka. Tahun lalu ketika aku berhaji dia berumur 14 tahun. Dan tingginya lebih tinggi dari aku, dia nggak secerewet Muhammad dan tentunya nggak ngerti ketika kami berbicara bahasa Indonesia atau Jawa.
Aku diajak berkeliling Makkah untuk berbelanja abaya dan beberapa keperluan oleh-oleh yang lain. Well, aku kasih tau juga nih ya. Saat itu, kakakku sudah beli rumput Fatimah dan yah akhirnya tertipu karena rumputnya sudah sangat lawas alias kualitas rendah, jadi cukup diragukan kemekarannya. So, dari keliling Mekkah ini kami juga membeli titipan Rumput Fatima.
(Dari kiri-kanan :Muhammad, Suaminya sepupuku, sepupuku,my sista, me. Photo by Mas Riza)

Ini sewaktu kami di toko Emas, emasnya ganteng-ganteng, berkilau dan besyar-besyar #Eh. #Bukan kode. Sebenarnya tertarik untuk membeli tapitapitapi, kami disini berniat untuk mengantar sepupuku yang akan menukarkan perhiasan anaknya yang sudah tidak muat, alias tukar tambah. Saat mereka berargumen penentuan harga, aku dan kakakku malah asyik melihat perhiasan-perhiasan yang menawan ini. Dan… you know what. Akhirnya kakakku dibeliin emas cincin oleh mas Riza saat di Madinah. Wih, sayang nggak ada mas-mas yang mau beliin aku emas :” kayaknya beribadah sama suami emang yang paling sip yak :” #Bukankodelagi #Boro-borongode #Siapayangdikode?:”
Then, saat di Madinah masih ada tour juga lho. Setelah selesai sholat Subuh, kami langsung berangkat menuju ke Masjid Quba. Masjid Kiblatain (Masjid yang di bangun dan memiliki dua kiblat, pembangunan masjid ini sebelum adanya perintah untuk berkiblat di ka’bah, jadi setelah adanya perintah untuk berkiblat di Makah, kemudian dibangunlah tempat imam tersebut yang menghadap ke Ka’bah), then, ke bukit Uhud dimana terjadinya kekalahan saat perang karena kaum Nabi Muhammad terburu-buru puas dengan hasil peperangannya. Nama Perang itu dinamai dengan Perang Uhud, banyak pasukan muslim yang meninggal akibat keserakahannya. 
Saat itu nggak sempat foto karena selalu buru-buru agar tidak ketinggalan sholat Dhuhur


Well,
Tujuanku untuk menuliskan ini diblogku karena selain mengeshare, aku ingin terus mengingat gimana singkatnya aku bisa sampai disana. Because my memory was broken so i dont have much memory. Dan ingatankupun akan semakin tergerus juga menyisakan serpihan-serpihan aja, nggak bisa detail walaupun nggak sedetail pengalamanku aslinya.
Penulis saat ini sudah kembali ke kampung halaman lho, ehehe. Tapi sedihnya iritasi di wajah masih terlihat parah. Senengnya, berat badan yang semenjak kepulangan dari Arab 57kilos (parah -____-) sekarang sudah menjadi 50kilo (karena tersiksa di Yogya btw ._. )
Last but not least, But i hope i can go back there (Arab) soon! You guys too! Amin.. x

Mozarra

Travelling addicted.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *