Unforgotable Moment 2k15 (Tiga)

Categories Travelling TimePosted on


Then 8 Dzulhijjah is coming..
Sebenarnya untuk pergi ke Arafah dilakukan tanggal 9 Dzulhijjah pagi, tapi karena ditakutkan macet yang sangat padat jadi seberangkatan di mulai pada tanggal 8 jam 10 siang untuk Cloterku. Perjalanan sekitar 30 menit dari Hotel menuju Arafah, sekilas setelah turun dari bus yang begitu dingin langsung terkena udara di Gurun Arafah langsung nyeri kepala, Cloter 58 terbagi menjadi 2 tenda. Tenda-tenda masih bongkar pasang dari kain biasa, udara yang amat sangat panas sekitar 52C dan hampir nggak terasa angin, AC rakitan yang diisi air yang baru tahun ini percobaanmu tak berfungsi. Saat-saat seperti ini banyak-banyak mengkonsumsi air mineral agar nggak dehidrasi, jujur semenjak sampai di Arafah ini bahkan 4 botol dalam 2 jam aja aku masih kurang. Kepala pusing, jantung berdetaknya kenceng banget sampai terasa kuat, pengen tidur tapi panasnya Subhanallah, badanku lemes banget, karena mungkin juga baru adabtasi.


Didalam tenda Arafah

 Di malam haripun masih terasa panasnya (Mungkin karena didaerah gurun-gurun) Malam sekitar setelah Isya’ aku langsung tidur(bisa-nggak bisa tetep dipaksa tidur karena badan langsung drop dan migrain parah akhirnya minum obat dan efek sampingnya jadi ngantuk), suhunya kurang lebih 48C. Banyak yang dehidrasi bahkan kekurangan cairan itu sampai stroke ringan, 2 orang pingsan dibawa ke rumah sakit sebelum hari H tanggal 9 Dzulhijjah. Sekitar jam 10 malam gerimis sebentar ada badai pasir yang beberapa tenda orang medan rubuh, banyak orang yang mempertahankan penyangganya biar nggak roboh, sejujurnya aku pengen bantuin tapi karena badan udah nggak kuat jadinya bisa tidur nyenyak, dan Alhamdulillahnya saat badaipun anginnya baru terasa dan itu justru membuatku makin nyenyak (Hehe, abaikan) Badainya pasir ringannya kurang lebih 1 jam. Dan sekitar jam 12 aku terbangun lagi karena saking panas hawanya. Jam 2-3an pagi Para Ketua dan Kyainya melaksanakan sholat Tasbih dan Tahajud, tapi entah kenapa badanku drop lagi dan migrain, akhirnya sama Mbak disuruh tidur aja nggak usah ikutan Sholat Malam.
9 Dhulhijjah..
Pagi ini Alhamdulillah badanku sudah mulai bisa menyesuaikan diri, keadaan nggak sedrop kemarin. Oh iya aku lupa satuhal, jadi berhubung sudah niat Ihrom Haji maka dari itu tidak boleh memakai wewangian seperti parfum dan sabun, pasta gigipun masih diragukan karena ada yang mengandung wewangian.  Jadi selama 8-9 Dhulhijjah jujur aku ga mandi karena ribet ( Cewe aurat termasuk tangan jadi harus pakai kaos tangan, dan aurat kaki harus pakai kaos kaki dan nggak boleh dilihat laki-laki aurat selama ihrom) Wudhu aja susah banget saking menjaga aurat yang biasanya terlihat jadi nggak terlihat seperti sarung tangan dan kaos kaki, belum lagi kamar mandinya nggak tertutup rapat untuk perempuannya, masih terbuat dari seng tanpa atap untuk luarnya, hanya kamar mandi yang ada atapnya. Dhuhurpun tiba, Hari H telah dimulai. Setelah Berjamaah Dhuhur, rombongan melaksanakan tahlil dan semacamnya membaca doa-doa bahkan ihtiyar non stop. Di Arafah dan waktu inilah Doa yang paling dijabah sama Allah sampai Magrib.
Magrib tiba, kami Sholat berjamaah didalam tenda, setelah sholat magrib takbirpun berkumandang MasyaAllah, rasanya pengen nangis karena telah berhasil melewati Arafah, nangis karena di Arafah saja panasnya seperti ini apalagi dineraka? Nangis karena perbuatan-perbuatan yang nggak baik selama ini, nangis karena kemenangan udah dicapai.(Well, karena Idul Adha disini lebih ditandai dengan acara besar daripada Idul Fitri, sedangkan di Indonesia justru Idul Fitri yang dirayakan lebih besar dari Adha, di Saudi Arabiapun tidak ada acara untuk berkunjung ke rumah-rumah saat Idul Fitri) Takbir terus berkumandang sampai Adzan Isya’ setelah itu masih bertakbir juga. Bus menjemput pukul 10 malam menuju ke Muzdalifah untuk mengambil kerikil. Kalau lihat di Muzdaliffah rasanya seperti lautan manusia, jutaan manusia berkumpul disini untuk mengambil kerikil-kerikil. Disarankan untuk mengambil lebih dari 70 kerikil yang tidak berukuran besar, namun tidak berukuran terlalu kecil. Antri yang tak kunjung selesai untuk menuju ke Mina. Sampai aku tidur ditanah Muzdalifah karena nggak bisa ikut rebutan tempat bus hehe.. Akhirnya Subuh datang, sebelum antri untuk masuk ke bus setidaknya sholat di Muzdhaliffah seadanya yang masih menggunakan pakaian Ihrom(Banyak yang dari rombongan terpencar karena rebutan antri padahal belum waktunya untuk naik ke bus). Jam 5 akhirnya satu regu (11 orang)naik ke bus bersama beberapa regu lain yang tertinggal dari satu rombongan.

Lokasi untuk mengambil batu kerikil sebelum menuju ke Mina


Perjalanan ke Mina Tanggal 10 Dzulhijjah

Perjalanan ke Mina Tanggal 10 Dzulhijjah
Mina sudah terbagi beberapa lantai, untuk orang Asia yang kecil-kecil seperti Indonesia, Malaysia (khususnya bagian Asia Tenggara) terletak di lantai 3 Mina. Kami sampai sekitar pukul 7 pagi karena macet jutaan orang yang menuju trowongan mina mencari Afdolnya lempar jumrah Aqobah (7 kerikil). Akhirnya regukupun tidak berangkat pagi walaupun mencari Afdolnya tapi kselamatan nomor 1. Kami tidur-tiduran yang layak (karena di Muzdalifah tidur asal-asalan dengan alas plastik/tikar, suhu di Muzdalifah malam itu sekitar 47C tapi tidak terlalu panas, kalau aku rasakan udara di Arab yang sampai 45C itu sama aja di Indonesia 32C) Jam 11 Siang, baru kami (satu regu kecuali ibu  dan bapak zein beserta mbah) berangkat dengan berjalan kaki sekitar 3KM dan sudah agak sepi alhamdulillah bisa melempar sampai pas didepannya tugu Aqobah. Setelah melempar jumrah 1x dengan tujuh kirikil, kami berdoa dan tahalul (potong rambut, bagi laki-laki jangan di gundul dulu walaupun afdolnya dicukur habis karena masih ada jumroh saat hari tasyrik). Senangnyaaaaa karena sudah selesai niat Ihromnya, jadi kami kembali menuju tenda sekitar 5Km. Sampai di tenda langsung Mandi.



Penampakan didalam tenda Mina yang biasanya kita lihat putih-putih berjajar
Sejujurnya agak sedih melihat badanku yang nauzubillah kena sakit yang kata orang jawa dikata keringet buntet. Mandi di Minapun karena udaranya yang memang panas jadi airnya ikutan panas (kamar mandinya antriiiiiii banget) Alhamdulillahnya setelah mandi bisa istirahat. Kejadian yang kurang enak terjadi pada malam 10 Dzulhijjah sekitar jam 8 dari regu kami dikabari kalau pak zein belum balik ke tenda bersamaan dengan istrinya. Dan baru kembali saat besoknya sekitar jam 2 pagi. Mereka tersesat dan salah jalan yang menuju Mekkah. Padahal seharusnya jalan ke MOAISEM, itu tempat tenda kita berada. Alhamdulillah saat ketemu mereka langsung mandi wajib dan istirahat.

11 Dzulhijjah
Kita berjalan kembali menuju jumrohan untuk melempar jumroh 3x wusta, ula, aqobah, jadi 21 kerikil yah! Berangkat sekitar jam 6 pagi karena udaranya masih dingin dan lumayan sejuk, kali ini boleh memakai pakaian bebas asalkan tetap sopan. Jadi nggak harus pakaian ihrom ya. Namun, untuk perempuan masih wajib menggunakan kaos kaki, membawa botol minum untuk diisikan air zam zam dingin sepanjang jalan yang telah disediakan. Berjaga-jaga juga membawa payung untuk menghindari panasnya sengatan sinar matahari saat pulangnya nanti.
Anyway, aku melupakan sesuatu. Jadi ketika dilorong sebenernya nggak boleh berhenti karena itu akan membuat macet pejalan yang lain ada petugas juga yang akan mendisiplinkan kalau ada yang berhenti, kalau capek bisa saja naik eskalator tiap 500 meternya. Terkadang reguku berangkat full jalan kaki karena hanya 3KM namun pulangnya naik eskalator-jalan-esklator-jalan karena jarak tempuhnya 5KM. Tenang saja, Allah memudahkan hamba-Nya. Hehe..

Itu adalah view perjalanan berangkat, aku mengambil foto ini di jalan kepulangan. Bisa dilihat kalau sekarang sistemnya sudah terbagi beberapa lantai, jadi tidak terlalu se padat dulu sebelum adanya pembangunan ini

Pada tanggal 12 dan 13 Dzulhijjah dilalui pada jam yang sama. Seperti sebelumnya. Setiap harinya 3x lempar jumroh 21 kerikil. Namun karena banyak yang mengambil nafar awal jadinya pada1 saat tanggal 12 Dzulhjjah sangat amat ramai, bahkan kami sempat merinding mendengar takbir jamaah haji dari Prancis, MasyaAllah mereka sangat kompak, banyak dan dengan semangat mengucapkan takbir, tahmid dll seluruh terowongan bahkan menggema kanan-kiri. Jangankan kita, jamaah Haji Indonesiapun sejauh ini nggak ada yang sesemangat itu, padahal kami mayoritas yang beragama Islam. Kalau ada yang nanya kenapa Jamaah prancis lewat situ?

Jawabnya : Akupun juga kurang tau, nyatanya banyak jamaah haji dari turkmenistan, uzbeskistan dll melewati lorong yang sama dengan kami, namun mereka tetap tenang-tenang saja dan tidak mendorong-dorong yang lain.
Mungkin ada yang tanya juga tentang kejadian di Mina yang sempat menghebohkan isi Hpku karena hampir semua orang di Indonesia menanyakan kabar kami dan memastikan kalau kami baik-baik saja. Yap! Kami sangat baik-baik saja bahkan sebelumnya tidak tau kalau ada hal tersebut #maklum kaga ada TV. Jadi saat kami mengkonfirmasi kepada guide kami, kejadian di Mina itu terjadi di lantai 1 wilayah Iran, Afganistan dan segolongan orang yang berbadan besar-besar itu. Awal mula kejadian itu saat jam 7 pagi di lantai 1 Mina tanggal 10 dzulhijjah orang-orang berbondong-bondong mencari afdolnya untuk melempar jumroh. Akan tetapi, karena Prince dari Arab Saudi juga berhaji, jalan menuju terowongan lantai satu di tutup untuk sementara dan didahulukan Prince te
rsebut (Ya iyalah, orang calon raja Saudi Arabia diduluin, kita mah apa. Eh aku di lantai 3 sih) So, penumpukan jamaah terjadi dan saling dorong karena tidak sabar daaaannnn akhirnya yang didepan ingin memutar arah mencari jalan lain. Akibatnya yang ditengah-tengah terhimpit saling dorong. Entah bagaimana detailnya, yang pasti secara garis besar seperti itu.

Taken sewaktu jalan pulang, yang diatas itu blower dan aku melewati jalan eskalator. Maaf kualitas gambar kurang baik, karena ini screenshoot dari Video





13 Dzulhijjah tidak seramai kemarin karena yang mengambil nafar awal sudah kembali menuju Mekkah, sedangkan kami mengambil nafar tsani. Setelah jumroh hari tasyrik yang terakhir ini kami sangat bersyukur. Perjalanan kami saat jumroh tidaklah sesulit dahulu yang masih belum ada trowongannya, blower (kipas angin yang besar) dan masih satu lantai saja yang menjadikan jutaan orang berkumpul dalam satu tempat. Kami menunggu jemputan untuk menuju ke Mekkah. Penantian bis kami lebih lama dan antri sekali. Bus datang sekitar pukul 10 pagi dan berangkat kembali menuju ke hotel~

Bis kami datang. Back To Mekkah

Mozarra

Travelling addicted.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *